Metode belajar
Anak belajar dengan bermain, bukan dengan diajar
Taman Indria mendidik anak dengan cara membimbing, bukan memaksa.
Prinsip dasar
Pamong berdiri di samping anak, bukan di belakangnya. Anak yang sedang belajar tidak boleh merasa sedang diajar.
Pamong membimbing, bukan memaksa
Among
Anak diberi ruang untuk tumbuh sendiri. Pamong mengiringi dari samping, bukan menarik tangan.
Kata among berasal dari bahasa Jawa yang berarti mengiringi. Guru memperlakukan anak sebagai makhluk yang sudah punya kemampuan, bukan wadah kosong yang perlu diisi. Guru menyiapkan suasana dan mainan, lalu menunggu. Ketika anak bergerak, pamong mengikuti langkah itu dengan pertanyaan atau mainan yang tepat. Anak tidak merasa sedang diajar. Dia merasa sedang main, padahal sedang tumbuh jasmani, sosial, dan emosinya.
Contoh yang bisa dilihat orang tua
- Anak belum mau masuk kelas. Pamong duduk di dekatnya tanpa menarik tangan, lalu mulai bermain di dekatnya.
- Anak menyusun balok hanya satu. Pamong tidak menyuruh jumlah, tapi menyiapkan dua.
- Anak belum mau bergabung. Mainan diletakkan di pojok untuk memancingnya.

Bermain yang punya tujuan
Dolanan Anak
Bermain bukan jeda antara belajar. Bagi anak, bermain adalah caranya bekerja.
Dolanan berarti bermain. Ki Hadjar Dewantara mendapat gagasan ini dari mengamati anak-anak yang sedang main, bukan dari buku. Anak yang sedang menyusun balok sedang melatih motorik. Anak yang sedang berbaris sedang belajar urutan. Anak yang sedang bertengkar kecil sedang belajar bahasa. Karena itu kegiatan bermain di Taman Indria selalu punya arah: ada tujuan yang ingin dicapai, dan ada alat yang menyiapkan tujuan itu.
Contoh yang bisa dilihat orang tua
- Balok disusun menjadi jembatan. Anak membandingkan tinggi dan panjang tanpa satu pun angka.
- Menuangkan air dari cangkir ke botol untuk melatih ketelitian tangannya.
- Bermain peran pasar. Anak bergantian peran dan bernegosiasi untuk mendapatkan barang.

Lima indra sebagai pintu masuk
Panca Indra
Nama Indria berasal dari kata Sanskerta untuk lima indra. Kelas dirancang untuk merangsang semuanya.
Anak usia tiga sampai enam tahun belajar paling cepat lewat tubuh: menyentuh, bergerak, melihat, mendengar, dan mencicipi. Ruang kelas disusun agar anak bebas mencoba. Mainan bukan pajangan di rak yang tinggi. Semua bahan ada di jangkauan anak, dari lantai sampai setinggi bahu. Ini yang membuat kelas terasa seperti rumah bagi anak.
Contoh yang bisa dilihat orang tua
- Kotak bahan alam berisi pasir, daun kering, kulit buah, dan batu.
- Dapur kecil anak. Anak mengaduk, menuang, dan mencicipi bahan makanan nyata.
- Sudut cerita yang terjangkau dari posisi duduk anak.

Bermain bersama, bergantian
Wira-wiri
Anak belajar bekerja sama karena permainannya memang tidak mungkin sendirian.
Dalam mainan anak ada minimal dua pihak. Karena itu anak belajar menunggu giliran, berbagi alat yang terbatas, dan menyelesaikan perbedaan. Hal yang sulit ditemukan di kelas lain muncul dengan sendirinya. Menahan diri, mengalah, dan membaca perasaan orang lain tidak bisa diajarkan dengan kalimat. Ia tumbuh dari konflik mainan kecil yang dibiarkan selesai sendiri oleh anak. Di sinilah wira dan wiri, kemandirian dan gotong royong, dipraktikkan.
Contoh yang bisa dilihat orang tua
- Mobil mainan hanya ada satu. Anak belajar menunggu dan meminta, bukan merebut.
- Bangun balok bersama. Satu orang menyusun, yang lain menyangga.
- Menggambar satu lukisan bersama dengan krayon yang sama.

Rumah dan sekolah berjalan beriringan
Kemitraan dengan Orang Tua
Anak tumbuh di dua tempat. TK melengkapi apa yang belum sempat ada di rumah.
Orang tua adalah pendamping pertama anak. Karena itu orang tua diperlakukan sebagai mitra, bukan tamu. Mereka ikut menyusun tujuan semester, datang mengamati kelas secara langsung, dan menerima laporan yang menjelaskan apa yang sudah bisa dilakukan anak serta apa yang perlu dilatih di rumah. Laporan ini tidak berupa angka. Targetnya bukan mengumpulkan nilai, melainkan agar anak tumbuh.
Contoh yang bisa dilihat orang tua
- Hari jadi. Orang tua datang dan ikut bermain bersama anak di kelas.
- Buku penghubung yang dibawa pulang setiap hari.
- Percakapan rutin kelas, bukan sekadar pengumuman.

Tidak bisa ditawar
Empat hal yang selalu dijaga di kelas
Hal-hal ini yang membuat anak merasa aman untuk mencoba dan salah.
Anak tidak boleh merasa gagal
Kesalahan anak adalah bagian dari proses. Pamong membetulkan tanpa membuat anak merasa bodoh.
Tidak ada penilaian baik atau buruk
Yang dilihat adalah perkembangan, bukan peringkat. Tidak ada peringkat pertama di kelas TK.
Harta anak tetap milik anak
Karya anak tidak dibuang. Dipajang, dicatat, dan dibawa pulang.
Boleh bertanya kapan saja
Tidak ada pertanyaan anak yang dianggap bodoh.